Seri 16 — Metric Penting: CAR, MDD, dan CAR/MDD
Fase 4: Statistik & Edge (2/4)
Bayangkan ada dua trading system yang ditawarkan kepada Anda.
Sistem A menghasilkan keuntungan tahunan rata-rata 30%, tetapi dalam perjalanan trading-nya pernah mengalami penurunan modal hingga 25%.
Sistem B menghasilkan keuntungan tahunan rata-rata 20%, dengan penurunan modal maksimum sebesar 8%.
Mana yang lebih baik?
Sebagian trader mungkin langsung memilih Sistem A karena keuntungannya lebih besar. Sebagian lainnya memilih Sistem B karena risikonya terlihat lebih rendah.
Namun, apakah kita bisa menentukannya hanya berdasarkan dua angka tersebut?
Belum tentu. Kita perlu memahami bagaimana keuntungan diperoleh, seberapa dalam modal pernah turun, berapa lama sistem diuji, dan apakah hasilnya cukup konsisten untuk dipertimbangkan.
Di sinilah tiga metrik penting mulai berperan: CAR, MDD, dan CAR/MDD.
Ketiganya membantu kita melihat kinerja trading system dari sudut pandang yang berbeda. Bukan untuk meramal hasil transaksi berikutnya, melainkan untuk menilai karakteristik sistem berdasarkan hasil pengujian.
1. CAR — Seberapa cepat modal bertumbuh?
CAR merupakan singkatan dari Compound Annual Return, yaitu tingkat pertumbuhan tahunan majemuk suatu modal selama periode tertentu.
Mengapa kita memerlukan angka ini?
Karena keuntungan total saja belum cukup untuk membandingkan dua sistem yang diuji dalam jangka waktu berbeda.
Misalnya, sebuah sistem menghasilkan keuntungan total 50% selama dua tahun. Sistem lain juga menghasilkan keuntungan total 50%, tetapi membutuhkan waktu lima tahun.
Apakah kinerjanya setara?
Tidak jika dilihat dari kecepatan pertumbuhan modal. Sistem pertama mencapai hasil tersebut dalam waktu yang lebih singkat.
CAR membantu menyetarakan pertumbuhan modal ke dalam ukuran tahunan dengan memperhitungkan efek majemuk.
Rumus sederhananya adalah:
CAR = (\left(\frac{\text{Modal Akhir}}{\text{Modal Awal}}\right)^{1/n}-1)
Keterangan:
Modal Awal adalah nilai modal pada awal periode pengujian.
Modal Akhir adalah nilai modal pada akhir periode pengujian.
(n) adalah lama pengujian dalam tahun.
Sebagai contoh, modal awal sebesar Rp100 juta berkembang menjadi Rp150 juta dalam waktu dua tahun.
CAR-nya adalah:
[
CAR = \left(\frac{150}{100}\right)^{1/2}-1
]
Hasilnya sekitar 22,47% per tahun.
Artinya, tingkat pertumbuhan tahunan majemuk yang setara dengan perubahan modal tersebut adalah sekitar 22,47%.
Perhatikan bahwa angka ini bukan berarti sistem menghasilkan keuntungan tepat 22,47% pada setiap tahun. Kinerja aktual bisa naik turun. CAR merangkum pertumbuhan sepanjang periode pengujian menjadi satu angka tahunan.
Apa yang perlu diperhatikan?
CAR yang tinggi memang menarik. Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa sistem dengan CAR tertinggi adalah sistem terbaik.
Bisa saja pertumbuhan yang tinggi diperoleh dengan risiko yang sangat besar. Sistem mungkin mengalami penurunan modal yang dalam, memiliki hasil yang sangat bergantung pada beberapa transaksi, atau hanya bekerja baik pada kondisi pasar tertentu.
CAR menjawab pertanyaan tentang pertumbuhan modal, tetapi belum menjelaskan perjalanan yang harus dilalui untuk mencapainya.
Untuk itu, kita memerlukan metrik berikutnya.
2. MDD — Seberapa dalam modal pernah jatuh?
MDD adalah singkatan dari Maximum Drawdown, yaitu penurunan terbesar dari suatu puncak nilai modal ke titik terendah berikutnya selama periode pengamatan.
Bayangkan modal trading Anda berkembang dari Rp100 juta menjadi Rp130 juta. Setelah itu, serangkaian kerugian membuat modal turun menjadi Rp104 juta sebelum akhirnya kembali naik.
Dari puncak Rp130 juta ke titik terendah Rp104 juta, modal turun Rp26 juta.
MDD untuk penurunan tersebut adalah:
[
MDD = \frac{130-104}{130}\times100%
]
Hasilnya adalah 20%.
Artinya, modal pernah mengalami penurunan sebesar 20% dari puncak sebelumnya.
MDD tidak hanya melihat apakah hasil akhirnya untung atau rugi. Metrik ini memperhatikan seberapa dalam modal pernah turun dalam perjalanan menuju hasil tersebut.
Sebuah sistem dapat berakhir dengan keuntungan yang menarik, tetapi sebelumnya mengalami drawdown yang membuat penggunanya kesulitan bertahan.
Inilah sebabnya mengapa melihat keuntungan akhir saja bisa menyesatkan.
Mengapa MDD penting bagi trader?
Misalkan modal awal Anda Rp100 juta. Sistem yang diuji menunjukkan MDD sebesar 30%.
Penurunan sebesar itu berarti modal pernah turun 30% dari puncaknya pada suatu titik selama periode pengujian. Jika puncaknya Rp100 juta, nilai modal pada titik terendah tersebut menjadi Rp70 juta.
Untuk kembali dari Rp70 juta ke Rp100 juta, dibutuhkan kenaikan sekitar 42,86%.
Perhatikan perbedaannya: kerugian 30% tidak cukup dipulihkan dengan keuntungan 30%. Persentase keuntungan dan kerugian dihitung dari basis modal yang berbeda.
Karena itu, semakin dalam penurunan modal, semakin besar kenaikan yang diperlukan untuk kembali ke puncak sebelumnya.
MDD juga berkaitan dengan psikologi. Tidak semua trader mampu bertahan ketika modal turun tajam, meskipun secara teori sistem tersebut masih memiliki peluang untuk pulih.
Namun, ada catatan penting: MDD historis bukan batas maksimum kerugian yang dijamin akan terjadi pada masa depan. Sistem yang pernah mengalami MDD 10% tetap bisa mengalami penurunan lebih besar ketika digunakan pada kondisi pasar yang berbeda.
MDD adalah gambaran risiko yang pernah terlihat dalam data, bukan jaminan tentang risiko yang belum terjadi.
3. CAR/MDD — Menghubungkan pertumbuhan dengan risiko
Sekarang kita sudah memiliki dua sudut pandang.
CAR membantu mengukur tingkat pertumbuhan modal per tahun. MDD membantu mengukur penurunan terbesar dari puncak ke titik terendah.
Lalu, bagaimana jika kita ingin melihat keduanya secara bersamaan?
Kita dapat menggunakan rasio CAR/MDD.
Rumus sederhananya:
[
CAR/MDD=\frac{CAR}{MDD}
]
Dalam perhitungan ini, CAR dan MDD harus menggunakan satuan yang sebanding, biasanya persentase. MDD digunakan sebagai nilai positif dari besarnya penurunan.
Mari kita kembali ke contoh dua sistem di awal artikel.
| Metrik | Sistem A | Sistem B |
|---|---|---|
| CAR | 30% | 20% |
| MDD | 25% | 8% |
| CAR/MDD | 1,20 | 2,50 |
Sistem A memiliki CAR lebih tinggi, yaitu 30%. Namun, MDD-nya mencapai 25%, sehingga CAR/MDD-nya adalah 1,20.
Sistem B memiliki CAR lebih rendah, yaitu 20%, tetapi MDD-nya hanya 8%. Hasil CAR/MDD-nya adalah 2,50.
Dalam contoh ini, Sistem B menghasilkan rasio pertumbuhan tahunan terhadap drawdown historis yang lebih tinggi.
Apakah itu otomatis berarti Sistem B pasti lebih baik?
Belum tentu.
CAR/MDD membantu membandingkan pertumbuhan dan penurunan modal, tetapi tidak menggambarkan seluruh karakteristik sistem. Kita tetap perlu memeriksa jumlah transaksi, biaya, konsistensi hasil, periode pengujian, likuiditas, dan apakah pengujian dilakukan secara realistis.
Dua sistem dengan CAR/MDD sama pun bisa memiliki karakter yang berbeda. Salah satunya mungkin menghasilkan transaksi lebih banyak, sedangkan yang lain hanya bergantung pada sedikit transaksi besar.
Jadi, gunakan rasio ini sebagai alat evaluasi, bukan sebagai satu-satunya penentu keputusan.
4. Jangan terjebak mengejar angka yang terlihat sempurna
Di sinilah hubungan antara metrik dan proses pengujian menjadi penting.
Bayangkan Anda menguji puluhan kombinasi parameter. Setelah banyak percobaan, ditemukan satu kombinasi dengan CAR/MDD sangat tinggi.
Tentu hasil itu terlihat menarik. Namun, bagaimana jika kombinasi tersebut dipilih hanya karena paling cocok dengan data historis yang sudah diuji berulang kali?
Hasilnya bisa saja mencerminkan overfitting, bukan keunggulan yang benar-benar bertahan di luar sampel pengujian.
Karena itu, jangan mengubah aturan hanya demi mempercantik CAR atau memperkecil MDD pada hasil historis.
Setiap perubahan harus memiliki alasan yang jelas dan diuji dengan prosedur yang konsisten. Setelah aturan ditetapkan, evaluasi juga kinerjanya pada periode lain yang tidak digunakan untuk memilih parameter.
Tujuannya bukan memperoleh angka paling indah di laporan. Tujuannya adalah memahami apakah hasil tersebut memiliki dasar yang masuk akal dan seberapa besar ketidakpastian yang masih harus dihadapi.
5. Hubungkan metrik dengan tujuan dan kemampuan modal
Sekarang bayangkan Anda memiliki dua trading system.
Sistem pertama memiliki CAR lebih tinggi, tetapi pernah mengalami penurunan modal yang dalam. Sistem kedua tumbuh lebih lambat, tetapi drawdown historisnya lebih rendah.
Mana yang sebaiknya dipilih?
Jawabannya bergantung pada lebih banyak faktor daripada sekadar CAR/MDD.
Berapa besar modal yang digunakan? Berapa banyak posisi yang dibuka secara bersamaan? Apakah hasil pengujian sudah memperhitungkan biaya transaksi dan slippage? Apakah sistem tetap bekerja pada pasar bullish, bearish, dan sideways? Seberapa besar penurunan modal yang sanggup ditanggung tanpa melanggar aturan?
Sistem dengan pertumbuhan tinggi tetapi drawdown besar mungkin tidak sesuai untuk trader yang memiliki toleransi risiko rendah. Sebaliknya, sistem dengan drawdown rendah tetapi keuntungan bersih yang terlalu kecil juga belum tentu memenuhi tujuan penggunaannya.
Ingat kembali fondasi yang kita bahas pada fase sebelumnya: menjaga modal agar tetap mampu bertahan adalah bagian penting dari proses trading.
Kita tidak sedang mencari sistem yang sekadar terlihat menguntungkan. Kita mencari sistem yang karakteristiknya dipahami, risikonya dapat dipertimbangkan, dan penggunaannya sesuai dengan kondisi modal serta disiplin penggunanya.
6. Data historis membantu kita mengukur, bukan menebak
Bagaimana cara menghitung CAR, MDD, dan CAR/MDD secara konsisten?
Kita membutuhkan catatan nilai modal atau equity curve sepanjang pengujian. Catatan ini harus mencerminkan hasil transaksi secara berurutan, dengan perlakuan yang jelas terhadap biaya dan posisi yang masih terbuka.
Dari sana, kita dapat menghitung pertumbuhan tahunan, mengidentifikasi puncak modal, mengukur penurunan dari puncak tersebut, lalu membandingkan hasilnya.
Data EOD dapat menjadi salah satu bahan untuk membangun dan menguji trading system berbasis data harian. Harga dan volume historis dapat digunakan untuk membentuk sinyal, sementara aturan entry, exit, ukuran posisi, serta biaya transaksi menentukan bagaimana hasil sistem dihitung.
Namun, ketersediaan data saja tidak menjamin hasil pengujian benar. Data harus diperiksa kualitas dan kelengkapannya, sedangkan aturan pengujian harus menghindari penggunaan informasi yang belum tersedia pada saat keputusan seharusnya dibuat.
Jika hasil CAR/MDD terlihat luar biasa, jangan langsung merasa menemukan sistem sempurna. Periksa kembali asumsi, periode pengujian, biaya, dan kemungkinan bias.
Angka yang berguna bukan angka yang membuat kita paling percaya diri. Angka yang berguna adalah angka yang membantu kita mengambil keputusan dengan pemahaman risiko yang lebih baik.
Kesimpulan
CAR, MDD, dan CAR/MDD memberikan tiga sudut pandang yang saling melengkapi.
CAR membantu kita memahami pertumbuhan modal secara tahunan. MDD menunjukkan penurunan terbesar yang pernah dialami modal dari puncaknya. CAR/MDD membantu membandingkan pertumbuhan dengan drawdown historis.
Ketiganya tidak dapat menjamin keuntungan masa depan, dan tidak satu pun cukup untuk menilai seluruh kualitas trading system secara sendirian.
Jangan hanya bertanya, “Berapa besar keuntungan sistem ini?”
Tanyakan juga, “Seberapa dalam modal pernah turun untuk memperoleh hasil tersebut, bagaimana hasil itu terbentuk, dan apakah risikonya sesuai dengan kemampuan saya?”
Trader mandiri tidak hanya mengejar pertumbuhan modal. Ia juga berusaha memahami harga risiko yang harus dibayar untuk mencapainya.
Pada seri berikutnya, kita akan membahas hubungan antara win rate dan risk-reward ratio, serta mengapa persentase kemenangan yang tinggi tidak selalu berarti sebuah sistem lebih menguntungkan.
Catatan edukasi: Artikel ini bertujuan untuk pendidikan dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Hasil pengujian historis tidak menjamin kinerja masa depan.
Hak cipta: Seluruh artikel dalam seri “Menjadi Trader Mandiri Berbasis Sistem & Data” ditulis untuk tujuan edukasi. Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mempublikasikan ulang sebagian maupun seluruh isi tanpa izin tertulis dari penulis.