Menjadi Trader Mandiri Berbasis Sistem dan Data (seri 7/8)

 Position Sizing: Kenapa Ukuran Posisi Menentukan Nasib Akun

 

 

Setelah memahami bahwa drawdown tidak bisa dihindari dan risk of ruin adalah ancaman nyata, sekarang kita masuk ke komponen yang sangat teknis tetapi sering diremehkan: Position Sizing.

Banyak trader berpikir kunci sukses ada di:

  • Entry yang tepat

  • Saham yang “pasti naik”

  • Timing yang akurat

Padahal dalam sistem trading profesional, seringkali ukuran posisi lebih penting daripada titik entry.

Salah ukuran posisi bisa membuat sistem bagus menjadi berbahaya.
Ukuran posisi yang tepat bisa membuat sistem sederhana tetap stabil.


1. Apa Itu Position Sizing?

Position sizing adalah cara menentukan berapa besar dana yang dialokasikan pada satu transaksi, berdasarkan:

  • Total modal

  • Risk per trade

  • Jarak stop loss

  • Volatilitas saham

Trader amatir menentukan ukuran posisi berdasarkan:

“Feeling yakin”
“Kayaknya ini bagus”
“Momentum lagi kuat”

Trader profesional menentukan ukuran posisi berdasarkan:

“Berapa persen risiko yang siap saya tanggung jika salah?”


2. Risk per Trade — Pondasi yang Tidak Bisa Ditawar

Dalam sistem berbasis risiko, ukuran posisi selalu dihitung dari risk per trade, bukan dari nominal uang yang ingin dipakai.

Contoh sederhana:

Modal: 100 juta
Risk per trade: 1%
Maka maksimal kerugian per trade = 1 juta

Sekarang pertanyaannya:
Jika jarak stop loss 5%, maka posisi maksimal yang boleh diambil adalah:

1 juta / 5% = 20 juta

Artinya walaupun modal 100 juta, posisi hanya 20 juta.

Kenapa?
Karena fokusnya bukan “berapa uang yang dipakai”, tapi “berapa uang yang siap hilang jika salah”.

Inilah perbedaan pola pikir sistem dan spekulasi.


3. Kenapa Risk Kecil Justru Membuat Akun Tumbuh?

Banyak trader takut risk kecil karena merasa pertumbuhan akan lambat.
Padahal justru sebaliknya.

Risk kecil memberikan:

  • Stabilitas psikologi

  • Konsistensi eksekusi

  • Kemampuan bertahan loss streak

  • Drawdown lebih dangkal

Sistem tidak butuh agresif.
Sistem butuh konsisten dan berulang.

Trading bukan sprint.
Trading adalah permainan probabilitas jangka panjang.


4. Loss Streak Itu Normal

Dalam distribusi probabilitas, loss beruntun adalah keniscayaan.

Misalnya sistem dengan win rate 50%.

Secara statistik:

  • 3–5 loss beruntun sangat normal

  • Bahkan 7–8 loss beruntun masih mungkin terjadi

Jika risk 5% per trade:

  • 5 loss berturut-turut = -25%
    Psikologi biasanya hancur.

Jika risk 1%:

  • 5 loss berturut-turut = -5%
    Masih sangat terkendali.

Inilah fungsi position sizing:
Melindungi mental agar sistem tetap bisa dijalankan.


5. Volatilitas dan Ukuran Posisi

Tidak semua saham punya karakter sama.

Ada saham:

  • Volatilitas tinggi

  • Range harian besar

  • Likuiditas tipis

Ada juga yang:

  • Stabil

  • Volume kuat

  • Pergerakan lebih terukur

Sistem profesional tidak menggunakan ukuran posisi yang sama untuk semua saham.
Semakin volatil saham, semakin kecil ukuran posisi.

Di sinilah pentingnya membaca data historis:

  • Rata-rata range harian

  • Volume

  • Struktur pergerakan

Keputusan ukuran posisi bukan berdasarkan keyakinan — tapi berdasarkan karakter harga yang bisa diukur.


6. Total Exposure — Risiko Tersembunyi

Banyak trader merasa sudah aman karena risk per trade kecil.
Namun mereka membuka terlalu banyak posisi sekaligus.

Contoh:
Risk 1% per trade
Buka 8 posisi bersamaan
Total exposure = 8%

Jika market koreksi serentak, dampaknya besar.

Sistem profesional selalu memperhitungkan:

  • Total risk terbuka

  • Korelasi antar saham

  • Risiko sistemik market

Trading bukan hanya tentang satu posisi, tetapi tentang manajemen portofolio secara keseluruhan.


7. Position Sizing & Disiplin Sistem

Position sizing membantu trader:

  • Tidak overconfidence saat profit

  • Tidak panik saat loss

  • Tidak tergoda all-in

  • Tidak melakukan revenge trading

Tanpa ukuran posisi yang jelas, trader akan:

  • Membesar saat yakin

  • Mengecil saat takut

  • Hasilnya tidak konsisten

Dengan ukuran posisi berbasis risiko:

  • Setiap trade punya struktur

  • Setiap trade punya batas

  • Emosi lebih terkendali


8. Data Membantu Menentukan Ukuran Posisi yang Rasional

Trader yang tidak berbasis data sering:

  • Mengira risk kecil padahal besar

  • Mengabaikan volatilitas

  • Salah menghitung potensi drawdown

Trader berbasis data dapat:

  • Menghitung average range

  • Menentukan stop loss realistis

  • Mengukur distribusi loss streak

  • Menentukan risk optimal

Semua itu membuat position sizing menjadi rasional, bukan emosional.


Kesimpulan Seri 7

Entry bagus tanpa position sizing adalah spekulasi.

Sistem yang sehat selalu dibangun dari:

  1. Risk per trade yang konsisten

  2. Ukuran posisi berbasis stop loss

  3. Kontrol total exposure

  4. Disiplin menjalankan aturan

Trader mandiri memahami satu hal penting:

Ukuran posisi menentukan apakah sistem bertahan atau hancur.

Menjadi Trader Mandiri Berbasis Sistem dan Data (seri 6/8)

 Drawdown & Risk of Ruin: Cara Trader Bangkrut (dan Cara Menghindarinya)

Pada fase sebelumnya kita sudah membahas bahwa Money Management adalah fondasi utama. Tanpa kontrol risiko, bahkan sistem terbaik sekalipun pada akhirnya akan runtuh. Di seri ini kita masuk lebih dalam ke dua konsep yang sangat menentukan umur seorang trader: Drawdown dan Risk of Ruin. Inilah titik di mana banyak trader sebenarnya “bangkrut”, bukan karena tidak bisa profit — tetapi karena tidak mampu bertahan.

Artikel ini penting, terutama bagi trader baru, karena kenyataannya kebanyakan trader gagal bukan karena salah entry, melainkan salah mengelola risiko.


Apa itu Drawdown?

Drawdown (DD) adalah penurunan nilai akun dari puncak (peak) ke titik terendah berikutnya.
Contoh sederhana:

  • Modal awal: 100 juta

  • Naik jadi: 120 juta → ini disebut equity peak

  • Turun ke: 90 juta → berarti terjadi drawdown 25%

Banyak trader hanya fokus pada profit, tapi trader profesional selalu melihat seberapa dalam drawdown sistem mereka. Karena profit bisa kembali, tapi drawdown besar merusak psikologi dan memperbesar risiko kehancuran akun.

Kenapa Drawdown Berbahaya?

  1. Recovery semakin sulit
    Loss 10% butuh profit 11% untuk kembali.
    Loss 30% butuh profit 43%.
    Loss 50% butuh profit 100%.

  2. Tekanan psikologis meningkat
    Semakin dalam drawdown → semakin besar rasa takut → keputusan makin emosional.

  3. Trader mulai melanggar sistem
    Geser stop loss, overtrade, revenge trading — ini biasanya terjadi saat DD dalam.

Karena itu dalam framework trading profesional, tujuan pertama bukan profit — tapi menjaga drawdown tetap terkendali.


Risk of Ruin — Jalan Menuju Kehancuran

Jika drawdown adalah “luka”, maka Risk of Ruin (RoR) adalah “kematian akun”.

Risk of Ruin adalah probabilitas akun trading mencapai titik di mana modal tidak cukup lagi untuk melanjutkan trading secara normal.

Biasanya terjadi karena:

  • Risk per trade terlalu besar

  • Loss berturut-turut tidak diantisipasi

  • Tidak ada batas Maximum Drawdown

  • Tidak disiplin stop loss

  • Averaging down saat loss

Secara matematis, bahkan sistem yang profitable bisa bangkrut jika risk terlalu besar.

Contoh:

  • Sistem win rate 50% (normal)

  • Risk 10% per trade

  • 7 loss beruntun → akun tersisa ±48%

  • Psikologi hancur, sizing kacau → kemungkinan ruin sangat besar

Bandingkan jika risk hanya 1% per trade:

  • 7 loss beruntun → akun masih ±93%

  • Trader masih stabil, sistem masih bisa jalan

Inilah kenapa dalam catatan sistem profesional: Risk ≤1% per trade.

Tujuannya bukan mempercepat kaya — tapi menghindari kematian akun.


Drawdown Tidak Bisa Dihindari — Tapi Bisa Dikontrol

Semua sistem trading pasti mengalami drawdown. Bahkan sistem terbaik dunia pun tidak pernah “smooth”. Yang membedakan trader profesional dan amatir adalah:

Amatir mencoba menghindari loss.
Profesional mengendalikan loss.

Beberapa prinsip penting dari sistem berbasis risiko:

1. Terima Loss sebagai Biaya Bisnis

Trading bukan tentang selalu benar, tapi tentang mengelola kesalahan kecil agar tidak menjadi kehancuran besar.

Small loss = normal
Big loss = sistem rusak

2. Batasi Risk per Trade

Risk kecil menjaga drawdown tetap dangkal dan memberi ruang sistem untuk bekerja dalam jangka panjang.

3. Hindari Averaging Down dalam Kondisi Loss

Menambah posisi saat salah arah memperbesar drawdown secara eksponensial. Banyak akun hancur bukan karena entry salah — tapi karena tidak mau mengakui salah.

4. Batasi Parallel Position

Terlalu banyak posisi terbuka = akumulasi risk tersembunyi. Sistem profesional selalu mengontrol total exposure terhadap modal.

5. Kenali Maximum Drawdown Sistem

Setiap sistem punya “karakter”. Dengan backtest dan data historis, trader bisa mengetahui batas drawdown normal. Ini penting agar tidak panik saat sistem sedang dalam fase buruk.


Hubungan Drawdown dan Psikologi Trader

Banyak trader berpikir masalah mereka adalah strategi — padahal sebenarnya psikologi di bawah tekanan risiko.

Saat drawdown terjadi:

  • Trader mulai ragu pada sistem

  • Mengubah rule di tengah jalan

  • Mengejar loss

  • Menolak cut loss

  • Overtrade

Padahal seringkali sistem masih valid — hanya sedang dalam fase statistik yang normal.

Karena itu dalam pendekatan sistem profesional:

Stabilitas psikologi dibangun dari kontrol risiko — bukan dari profit.

Trader yang risk kecil akan tetap tenang saat loss.
Trader yang risk besar akan panik bahkan saat sistem masih benar.


Sistem Profesional Selalu Berbasis Probabilitas

Tidak ada sistem dengan win rate 100%. Bahkan sistem dengan edge kuat tetap memiliki:

  • Losing streak

  • Drawdown period

  • Fase sideways

  • Fase underperformance

Trader mandiri memahami bahwa loss beruntun bukan kegagalan — tapi bagian dari distribusi probabilitas.

Yang berbahaya bukan loss — tapi:

  • Loss besar

  • Loss tak terkendali

  • Loss karena melanggar sistem


Cara Praktis Mengendalikan Drawdown

Beberapa langkah yang digunakan dalam sistem trading berbasis data:

  1. Tetapkan Risk Tetap per Trade (misal 1%)

  2. Gunakan Stop Loss yang jelas sebelum entry

  3. Tracking Equity Curve untuk melihat kondisi sistem

  4. Tentukan Max Drawdown pribadi (misal 15–20%)

  5. Jika DD mendekati batas → kurangi size / evaluasi

  6. Jangan ubah sistem hanya karena fase loss pendek

Pendekatan ini membuat trading menjadi proses terukur, bukan reaksi emosional.


Peran Data dalam Mengendalikan Drawdown

Trader yang tidak menggunakan data biasanya:

  • Tidak tahu drawdown normal sistem

  • Tidak tahu win/loss distribution

  • Tidak tahu risk sebenarnya

  • Trading berdasarkan perasaan

Sebaliknya, trader berbasis data dapat:

  • Mengukur MDD historis

  • Menghitung Risk of Ruin

  • Mengetahui ukuran posisi optimal

  • Menilai apakah sistem masih valid

Inilah alasan mengapa dalam perjalanan menjadi trader mandiri, data bukan pelengkap — tetapi fondasi keputusan.


Kesimpulan — Bertahan Lebih Penting dari Menang

Dalam dunia trading, yang bertahan lama bukan yang paling cepat profit — tapi yang paling mampu mengendalikan risiko.

Drawdown pasti terjadi.
Loss beruntun pasti ada.
Fase buruk pasti datang.

Namun akun hanya hancur jika:

  • Risk terlalu besar

  • Loss dibiarkan membesar

  • Sistem dilanggar

  • Psikologi runtuh

Trader mandiri memahami satu prinsip penting:

Tujuan pertama trading adalah bertahan hidup.
Profit adalah hasil dari sistem yang bertahan.